Headlines News :


    Tampilkan postingan dengan label Renungan Alkitab. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label Renungan Alkitab. Tampilkan semua postingan

    DALAM NAMA YESUS ADA JALAN KELUAR



    GOLGOTANews: - Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Tuhan Yesus meyakinkan hal ini kepada kita melalui 1 Korintus 10:13"Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Tuhan setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya".

    DALAM NAMA YESUS ADA JALAN KELUAR




    GOLGOTANews: - Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Tuhan Yesus meyakinkan hal ini kepada kita melalui 1 Korintus 10:13: "Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Tuhan setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya".

    MERESPON KARYA KEMATIAN DAN KEBANGKITAN KRISTUS

    Makna Kematian Kristus

    GOLGOTANews: Kematian Kristus di Kayu Salib dan kebangkitan-Nya adalah demonstrasi kasih Allah atas umat manusia dan kuasa-Nya atas dosa dan maut. Kasih Allah dinyatakan lewat pengorbanan Putra Allah yang memikul dosa seisi dunia sehingga menyediakan jalan pendamaian bagi manusia kepada Allah.

    Kematian Kristus adalah kematian yang menggantikan hukuman yang seharusnya manusia terima karena dosa-dosanya. Manusia yang percaya kepada Kristus kini tidak lagi menerima hukuman, melainkan menerima anugerah pengampunan dosa. Salib menjadi lambang pengampunan yang sempurna karena Kristus telah membayar utang dosa secara tuntas di atas-Nya.

    Oleh darah Kristus yang telah dicurahkan demi pengampunan dosa, manusia yang percaya kepada karya salib ini boleh dengan berani berkata, "Aku sudah diampuni. Allah tidak lagi melihat aku sebagai orang berdosa. Terpujilah nama Tuhan!"

    Kebangkitan Kristus menyatakan bahwa kuasa dosa dan maut yang membelenggu manusia telah dipatahkan, sekali untuk selama-lamanya. Dosa dan maut tidak lagi memiliki kuasa untuk memperbudak manusia. Kubur yang kosong membuktikan bahwa orang yang percaya kepada Kristus mengalami pembebasan dari belenggu dosa.

    Sama seperti karya Kristus di salib menyebabkan manusia bisa berkata "darah-Nya menyucikan aku", kebangkitan Kristus menyebabkan setiap orang percaya boleh dengan keyakinan penuh berkata, "Puji Tuhan hidupku sekarang bukan aku lagi, melainkan Kristus yang hidup dalamku." (Galatia 2:20a)

    Namun, kasih kayu salib dan kuasa kebangkitan Kristus tidak hanya berhenti pada pengampunan dosa dan pembebasan dari belenggu dosa, tetapi juga menjaminkan pemeliharaan- Nya atas orang percaya secara terus-menerus. Kristus yang bangkit hadir dalam rupa kehadiran Roh Kudus di dalam hati setiap orang percaya.

    Itu sebabnya, selepas kebangkitan, kita merayakan kenaikan Kristus ke surga, lalu hari Pentakosta, yaitu kedatangan Roh Kudus untuk memimpin umat Tuhan. Roh Kudus mengingatkan kita akan semua pengajaran Kristus dan karya yang sudah dilakukan-Nya dengan sempurna.

    Setiap kali dosa mengintai dan mau menyatakan otoritas atas hidup orang percaya, kita bisa menolak dengan mengatakan "utang dosa sudah lunas dibayar dan penjara dosa tidak berkuasa menawan aku". Setiap kali godaan datang agar kita menyerah kembali kepada dosa, kita bisa menggunakan senjata ilahi yang diberikan Allah kepada kita: iman, pengharapan, dan kasih.

    Dengan iman, kita menengok ke belakang kepada karya salib dan kebangkitan Kristus. Dengan iman, kita diingatkan kembali saat karya tersebut diberlakukan atas hidup kita. Apa yang Kristus telah lakukan pada masa lampau, dan yang telah kita alami secara pribadi, menjadi pegangan dan jaminan bahwa sekarang ini hidup kita adalah di dalam lingkup kasih dan kuasa Allah.

    Bersama dengan Paulus, kita bisa berkata, "Tak ada suatu hal pun yang dapat memisahkan aku dari kasih Allah." (Roma 8:31-38).

    Dengan pengharapan, kita melihat ke masa depan. Kristus yang sudah bangkit dan sudah menang terhadap kuasa dosa kelak akan datang menjemput setiap orang percaya menikmati surga yang mulia yang disediakan bagi mereka (Yohanes 14:1-3). Saat itu pasti akan datang, sepasti karya penyelamatan- Nya yang sudah terjadi.

    Pada saat itu, semua pergumulan hidup selesai. Perjuangan untuk bertahan bahkan menang melawan pencobaan berakhir, diganti dengan persekutuan dan kebahagiaan kekal bersama Allah Bapa dan Kristus.

    Pengharapan akan bertemu Kristus dan menikmati persekutuan kekal inilah yang membuat kita fokus pada akhir perjalanan hidup kita, bukan pada hal-hal di dunia ini yang mudah mengalihkan perhatian kita dan menjebak kita berputar-putar di tempat (Ibrani 12:1-2).

    Dengan kasih, kita menjalani hari ini sebagai respons terhadap kasih dan kuasa-Nya yang tidak berubah dulu, sekarang, dan sampai Kristus datang kembali. Kasih Kristus yang sudah kita alami dan kuasa-Nya yang terus menopang kita, menjadi daya pendorong yang tidak pernah bisa padam di dalam hidup kita.

    Kasih ini bagaikan mata air yang meluap-luap ke luar dari hati yang sudah dihidupkan oleh hidup Kristus (Yohanes 4:14). Kasih ini kita wujudkan dengan menyaksikan Kristus kepada sesama manusia agar mereka pun berjumpa dengan Kristus serta mengalami kasih dan kuasa-Nya dalam hidup mereka.

    Makna Kebangkitan Kristus

    Rasul Paulus, salah seorang pengikut Kristus yang sebelum bertobat menjadi penantangnya bahkan membunuh orang-orang Kristen, menulis bahwa jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kita (baca: 1Korintus 15:17). Peristiwa kebangkitan tersebut sangat penting karena Kebangkitan Kristus: 

    Pertama, mengesahkan bahwa Tuhan Yesus Kristus, adalah Allah yang tidak dapat ditaklukkan oleh maut, bahkan maut telah dikalahkannya (baca Yohanes 11:25). Oleh karena itu, barangsiapa yang percaya kepada-Nya sekalipun akan mengalami kematian jasmani, namun akan tetap hidup dalam roh bersama Tuhan.

    Kedua, menyatakan bahwa iman umat Kristen didasarkan pada fakta sejarah dan bukanlah mitos (baca 1Korintus 15:3-8).

    Ketiga, mengukuhkan bahwa pernyataan Kristus yang mengatakan bahwa pada Hari yang Ketiga Ia akan bangkit dari kematian. Inilah keunikan Kristus, yang tidak dimiliki penganjur agama lainnya (baca Kisah Para Rasul 2:23-24).

    Keempat, menunjukkan bahwa penebusan Kristus di kayu salib untuk membenarkan orang berdosa sehingga mereka bisa diterima oleh Allah Bapa (baca Roma 4:25).

    Kelima, merupakan inti Injil, tiada berita sukacita yang sempurna dan sejati bagi umat manusia bila Kristus tidak dibangkitkan (baca 1Korintus 15:18-19).

    Keenam, memungkinkan umat manusia mengenal dan menemukan-Nya pada masa kini, karena Dia tetap hidup (baca Wahyu 2:8).

    Ketujuh, menjamin kebangkitan orang-orang percaya di masa yang akan datang, karena Dialah buah sulung kebangkitan (baca 1Korintus 15:20-22).

    Kedelapan, mengalahkan kuasa maut. Sekalipun masih ada keresahan dalam menghadapi kematian, namun kita harus melenyapkan ketakutan terhadap apa yang akan terjadi diseberang kematian tersebut (baca 1Korintus 15:55-56; Ibrani 2:14-15).
    Kesembilan, memberi kemenangan bagi orang-orang percaya, memperoleh kuasa ilahi untuk mengalahkan kejahatan (baca Efesus 1:18-21).

    Kesepuluh, menjadi model bagi kebangkitan orang-orang percaya dengan tubuh yang mulia dalam kehidupan yang tidak berkeputusan, kekal dan abadi (baca 1Korintus 15:35-44,49).

    Kesebelas, menegaskan akan kedatangan Tuhan yang kedua kalinya, untuk membawa umat manusia pada akhir sejarah (baca Kisah Para Rasul 17:31).

    Keduabelas, mendorong orang-orang percaya untuk tidak goyah dalam iman dan giat bekerja bagi kerajaan Allah, mengabarkan Injil Keselamatan Tuhan Yesus Kristrus, karena mengetahui bahwa semua jerih lelah tersebut tidak sia-sia (baca 1Korintus 15:58).

    Tatkala murid-murid Tuhan Yesus dalam ketakutan yang hebat pada malam hari Kebangkitan Tuhan, pada PASKAH Pertama, tiba-tiba Tuhan Yesus muncul di tengah-tengah mereka dengan mengucapkan sebuah kalimat yang sungguh menjadi dambaan umat manusia sepanjang sejarah: "Damai sejahtera bagi kamu!", sambil menunjukkan telapak tangan-Nya yang bekas dipaku dan rusuk-Nya yang telah ditusuk.

    Rasul Yohanes kemudian melaporkan bahwa murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan (baca Yohanes 20:19-20).

    Di tengah dunia yang menakutkan ini -- penduduk dunia menghadapi ketidakpastian ekonomi, sosial dan politik, serta makin merosotnya moral dan meningkatnya kejahatan. Kiranya ucapan Tuhan Yesus: "Damai sejahtera bagi kamu!", akan sungguh-sungguh memberi kita sukacita, karena mengetahui bahwa Tuhan yang sudah mati dan bangkit itu, berkuasa atas sejarah manusia.

    Dengan menyadari bahwa sebagai manusia yang terdiri dari darah dan daging, kita masih dimungkinkan resah menghadapi kenyataan yang tidak menggembirakan ini, marilah dengan iman kita menghadapi kehidupan dan masa depan kita dengan penuh sukacita surgawi yaitu sukacita yang melebihi akal.

    Juga dengan penuh gairah seperti para pengikut Tuhan di masa permulaan Gereja menyaksikan kasih dan penebusan Kristus kepada mereka yang belum percaya, karena yakin bahwa segala kuasa di bumi dan di surga telah diberikan kepada-Nya serta Dia pun berjanji untuk senantiasa menyertai kita (baca Matius 28:18).

    Semoga PASKAH tahun ini membawa suatu perubahan radikal dalam kehidupan pribadi, keluarga maupun pelayanan kita, hingga nama Tuhan dimuliakan.
    Pdt. Deserius Adii
    Gembala Sidang KINGMI Jemaat Golgota
    Irigasi, Timika - Papua.

    RAHASIA TERLEPAS DARI BELENGGU MASALAH

    ADA 3 RAHASIA UNTUK TERLEPAS DARI BELENGGU MASALAH

    “Akan tetapi terjadilah gempa bumi yang hebat, sehingga sendi-sendi penjara itu goyah; dan seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah belenggu mereka semua ” Kisah Para Rasul 16:26.
    Filipi, suatu kota di daerah Makedonia, merupakan salah satu tujuan Rasul Paulus dan rekannya Silas dalam pelayanan misi mereka. Seperti halnya di tempat lain, di kota ini Paulus juga mendapat tentangan dari orang-orang yang tidak suka akan pemberitaan injil. Bahkan mereka ditangkap dan didera, kemudian dimasukkan ke dalam penjara.

    DARI JURANG MASALAH PANDANGLAH KE BUKIT GOLGOTA, DISANA YESUS MENUNGGU KITA




    Dari jurang  yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya Tuhan!  Tuhan, dengarkanlah suaraku! Biarlah telingaMu menaruh perhatian kepada suara permohonanku.  Jika Engkau, ya Tuhan, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan, Tuhan, siapakah yang dapat tahan ? Tetapi padaMu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang.  Aku menanti-nantikan Tuhan, jiwaku menanti-nanti, dan aku mengharapkan FirmanNya.  Jiwaku mengharapkan Tuhan lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi, lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi. Berharaplah kepada Tuhan, hai Israel ! Sebab pada Tuhan ada kasih setia, dan IA banyak kali mengadakan pembebasan.” Mazmur 130 : 1-7

    Renungan Paskah: Dari Pengadilan Hingga ke Golgota

    Penuis: Heren
    Nats Yesaya 53
    Isi nubuatan Yesaya 53 menggambarkan penderitaan Yesus di sepanjang jalan salib, yang dialami Yesus dengan rute: Getsemani – pengadilan – sampai di Golgota. Aneh bukan, Yesaya menulis ratusan tahun sebelum Tuhan Yesus lahir, dan Yesaya mati ratusan tahun sebelum Yesus lahir, bagaimana mungkin tulisannya bercerita hari kejadian penyaliban Yesus, lebih aneh lagi tulisan ini sangat tepat dengan kejadian nyatanya.  Ini salah satu bukti bahwa Alkitab adalah Kitab Suci, Tuhan mengatur isi Alkitab, dan Dia tidak pernah salah memberi  nubuat.
    Mari kita lihat perjalanan salib Yesus Kristus sejak meninggalkan Getsemani, dari Pengadilan ke Golgota – kita akan lihat dengan membandingkan nubuat Yesaya dengan Kejadian jalan Salib Yesus Kristus yang sungguh dialami Yesus ratusan tahun setelah nubuat itu.  APA YANG TERJADI DI SANA:
    1. Yes 53:3 “Ia dihina dan dihindari orang”  Dihindari orang adalah hal pertama yang dicatat kitab Lukas setelah Yesus meninggalkan Getsemani.  Saat Tuhan Yesus ditangkap, semua murid-murid dan pengikutNya lari kocar-kacir meninggalkan Tuhan Yesus.  Tidak ada yang berani mendekat dan terlibat, takut ikut ditangkap.  Ia dihindari orang.  Bahkan Petrus yang pernah mengaku bahwa ia berani mati bagi Yesus pun, tidak berani mendekat, Hatinya ingin dekat, tapi ia takut, jadi ia diam-diam, menyelinap membuntuti Tuhan Yesus. Tapi itu tidak berlangsung lama, karena kemudian Ia dikhianati sahabat atau murid terdekatNya.  Petrus mengkhinati Yesus dengan menyangkal Dia di hadapan para wanita. Padahal wanita, dalam budaya Yahudi saat itu dipandang sangat rendah oleh para pria, mereka tidak punya power, tapi terhadap wanita seperti itu Petrus takut untuk mengakui Yesus, ia mengatakan, “saya tidak kenal orang itu”.. (Lukas 22:54-62)  Sdr, pernah membayangkan, teman akrabmu, yang setiap hari main denganmu, ngobrol denganmu, tiba-tiba berkata di depan orang yang baru kalian kenal:”maaf, aku nggak kenal orang ini” – dengan ekspresi serius, bukan bercanda.  Pasti Saudara sakit hati.  Itu yang dialami Yesus, disakiti hatiNya oleh para murid dan pengikutNya karena mereka semua menghindari Dia.  Tapi Yesus tidak mendendam.
    2. Yes 53:3 “Ia dihina dan hindari orang”,  Dihina orang adalah hal ke-2 yang dicatat Lukas tentang perjalanan Tuhan Yesus menuju Golgota, mulai Lukas 22:63 – dikatakan Orang-orang yang menahan Yesus, mengolok-olokkan Dia sambil memukili dan menyiksa Dia. Muka Yesus ditutupi, lalu mereka memukuli Dia, tanpa Dia bisa melihat siapa yang memukulNya, dan mereka mempermainkan Yesus dengan mengajak main tebak-tebakan, siapa yang memukuli Dia?  Ini penghinaan yang luar biasa bagi seorang Raja di atas segala raja.
    3. Bukan Cuma itu, Ia juga dipukul dengan cambuk.  Cambuk romawi bukan sekedar satu tali rotan yang lentur dan keras, tapi merupakan tali yang bercabang sampai 5 atau 6 cabang, yang diujung masing-masing ada benda tajam, seperti mata kail yang terbuat dari tulang-tulang hewan yang tajam.
    Tuhan Yesus sudah mengalami penyiksaan  itu sejak ia dalam pengadilan, ia dicambuk Dengan 5 atau 6 mata kail yang sekaligus menghujam tubuhnya, dan ketika ditarik, punggungnya bukan Cuma berdarah, tapi daging dan kulitnya ikut tertarik bersama ujung kail itu.  Ini terjadi Berulangkali (puluhan).
    – Ketika selesai dicambuk, tubuhnya robek-robek penuh luka, langsung dikenakan jubah ungu untuk mengejek Dia.  Jubah itu yang terus dipakai sepanjang perjalanan menuju golgota.  Luka yang masih basah, mengering dan lengket mengeras di kain ungu itu.  Ketika sampai di Golgota, dengan paksa para prajurit menarik jubah itu, dan koreng yang melekat ikut tertarik, luka-luka lama terbuka lagi, jauh lebih sakit dari sebelumnya…
    – Paku besar menghujam tangan dan kakiNya,
    – dan orang-orang mengejek Dia “Hai engkau pembuat mujizat, tolonglah diriMu sendiri”- Ia dihina, dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan.  Ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap Dia, dan bagi kita pun dia tidak masuk hitungan. Kondisi Yesus yang berlumur darah, membuat orang menutup muka, tidak ada yang mau memandang rupanya  – karena begitu buruk akibat siksaan.
    Sejak di pengadilan, wajah Yesus sudah hancur, catatan sejarah menunukkan bahwa tulang pipinya retak, tulang hidungnya patah, matanya bengkak dipukuli, dan tubuh Yesus pun sudah hancur kena cambuk.  Setelah diadili bolak-balik antara Pilatus dan Herodes, akhirnya di tangan Pilatus, keputusan diambil, Tuhan Yesus diputuskan disalib, bukan karena ditemukan kesalahan pada diriNya, tapi Ia diberikan Pilatus untuk menghindari pemberontakan orang-orang Yahudi.  Yesus ditukar dengan penjahat-pembunuh bernama Barabas.  Pada jaman itu, dalam hukum Romawi, ada aturan tukar terdakwa khusus bagi terdakwa bangsa Yahudi.  Jadi Yesus divonis mati, sebagai menggantikan Barabas yang sudah divonis mati.  Bangsa Yahudi yang sudah gelap mata, lebih memilih Barabas orang yang pernah membunuh, mencabut nyawa, untuk dibebaskan, dan menuntut Yesus, yang pernah membangkitkan orang mati, untuk dihukum mati.  DOSA MENGGELAPKAN MATA MANUSIA, DAN MEMBALIKKAN KEADAAN.  YANG BERSALAH DIBEBASKAN DAN YANG BENAR DIHUKUM MATI.
    4. Setelah keputusan diambil Pilatus, Yesus digiring, memikul salib menuju Golgota.  Ia menuju Golgota tanpa protes, tanpa berkata apa-apa(Yes 53:7): Dia tidak membuka mulutNya, seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, Ia tidak membuka mulutnya.  “Membuka mulut”- sesuai bahasa Ibrani yang dipakai kitab Yesaya, punya arti: Tanpa protes.  Tanpa mengeluh.  (penjahat asli, biasanya berdalih pada saat ketangkap basah, bahkan saat dijatuhi hukuman pasti – masih tetap protes, berulang kasus yang saya hadapi, anak yang ketangkap basah berbuat pelanggaran sekolah, hal pertama yang dilakukannya adalah “buka mulut  BELA DIRI, pakai ilmu silat: SILAT KATA, ALIAS BERDALIH” (dengan ekspresi serius tapi mata berbohong) untuk menghindari hukuman.  Tapi Tuhan Yesus tidak buka mulut sama sekali/Ia tidak protes, tepat seperti yang dinubuatkan nabi Yesaya.  Manusia biasa tidak akan tahan diperlakukan demikian, termasuk penjahat yang digiring sampai ke salib bersamaan dengan Tuhan Yesus, mulut mereka penuh sumpah serapah, kutukan, protes.  Mereka tidak mau dihukum mati, sekalipun mereka berbuat banyak kejahatan, mereka tidak bisa terima kenyataan itu. Di tengah brutalnya penyiksaan, penjahat-penjahat ini tidak  bisa mengendalikan emosi mereka,…. maka Segala isi hati yang kotor tidak tertahankan untuk keluar dari mulut orang yang mendapat hukuman mati tersebut, dari sepanjang perjalanan menuju golgota, sampai mereka tiba di atas kayu salib itu.
    Semua yang keluar dari mulut mereka negatif, kecuali ketika salah satu penjahat bertobat, baru kata-katanya berubah positif.
    Tuhan Yesus tidak membuka mulutNya untuk protes, tak ada kata-kata kotor keluar dari mulutNya, karena tidak ada kekotoran dalam hatiNya.  Ia membuka mulutnya, tapi  dengan 7 kalimat yang positif, penuh pengampunan, dan perhatian. Keluh sakit yang diucapkannya, juga bukan merupakan protes atau pemberontakan kepada para penyalibNya. Ia mengeluh langsung kepada Bapa di sorga, keluhan tanpa protes dan tanpa kutukan.
    5.Hal lain yang dicatat Yesaya, yang benar-benar dialami Yesus, Yes 53:5 : Ia tertikam oleh karena pemberontakan kita.  Di atas salib, perut Yesus ditikam hingga menembus  lambungNya.
    Sdr, lambung yang tertikam, kepala yang berdarah oleh mahkota duri tajam yang bukan Cuma diletakkan begitu saja, tapi ditancapkan keras di kepala, tubuh yang robek-robek akibat cambuk yang menghujam dan menarik daging Yesus, membuat orang-orang di sana saat itu berpikir, “sungguh orang ini sedang dimurkai Allah”.  Tetapi saudara, sesungguhnya penyakit kitalah yang ditanggungNya, dan kesengsaraan kita yang dipikulNya, semestinya yang berada di sana adalah kita- yang berdosa.
    Yesus mati, bukan sekedar menggantikan barabas, Yesus mati menggantikan hukuman dosa kita semua.  Tuhan tahu, tidak ada  manusia yang sanggup membayar dosa manusia sendiri yang terlalu besar dan banyak. Manusia tidak bisa menghapus dosanya sendiri, itulah sebabnya dalam kekristenan perbuatan baik tidak membawa manusia masuk ke sorga, sorga adalah tempat kudus, tidak boleh ada dosa di sorga, itu sebabnya sekalipun manusia sudah berbuat ratusan juta kebaikan, tapi jika ada satu dosa saja – tidak bisa masuk ke sorga.  Untuk alasan ini, Tuhan Yesus, sekalipun sanggup dan berkuasa untuk melepaskan diri dari kayu salib, Ia tidak memikirkan diri sendiri atau menjaga gengsi/harga diri sendiri,… Ia memilih mati bagi manusia.
    Inilah alasan Yesus mau mati bagi manusia karena kasih.  Alasan kedua kenapa Yesus mau mati bagi manusia adalah KARENA TANPA KEMATIAN TIDAK AKAN PERNAH ADA KEBANGKITAN.  JIKA YESUS tidak pernah mengalami kematian, Ia tidak akan bangkit dan membuktikan kemenangan atas kuasa maut.  Yesus memutuskan untuk mati agar ada kemenangan, mematahkan kuasa iblis.
    Semua yang terjadi pada Yesus di Golgota, seluruh pengorbanan dan lukaNya membuktikan Kasih Tuhan yang besar pada manusia.  Dan Tuhan mau engkau dan saya menghargai luka-luka dan pengorbanan yang sudah ia buat bagi kita.
    Ilustrasi: Suatu hari saya dan teman-teman sekelas saya di SAAT sedang kerja bakti membersihkan ruangan-ruangan di kampus.  Masing-masing membawa alat kerjanya sesuai yang ditugaskan.  Beberapa bawa sapu, beberapa bawa lap pel. Lap pelnya berbagai macam asal-usul, ada yang dari kaos bekas, ada yang dari span pendek bekas, ada yang lap pel beneran.  Saya bawa span pendek bekas. Saat kerja bakti, ada pembagian tugas, ada yang angkat kursi ke luar ruangan, ada yang nyapu, ada yang ngepel, saya dapat bagian membilas lap pel, lalu dioper ke teman yang ngepel.  Banyak tuh yang saya bilas dan peras lap pelnya.  Ketika saya udah kelihatan keringatan, dan muka pucat kecapekan, eh ada teman cowok, yang habis angkat bangku, nawarin bantuan.  “udah gua gantiin dulu sementara” – lalu ia mulai membilas, baru membilas kain pel kedua, dia udah berteriak “aduh…” tangannya berdarah, saya kaget, ia berseru “ini lap siapa yang punya? Kok resletingnya gak dibuang, melukai tanganku?” wah saya merasa bersalah sekali, “sori, itu lap saya”.  Saya gak enak hati dengan teman saya, yang pertama karena lap itu saya yang punya dan lupa dibuang resletingnya, yang kedua: karena tugas membilas dan memeras adalah tugas saya, SEMESTINYA TANGAN SAYALAH YANG TERLUKA DAN BERDARAH, bukan tangan teman saya.  SEMESTINYA SAYA SENDIRI YANG MERASAKAN SAKIT DAN TERLUKA, karena kesalahan saya sendiri yang tidak teliti membawa lap pel dan karena memeras lap adalah tanggung jawab saya.  Tapi, justru teman saya yang berniat baik membantu saya yang terluka dan sakit. Sejak itu, saya sangat menjaga perasaannya dan jauh lebih berhati-hati dalam menjaga relasi pertemanan dengannya dari sebelumnya, saya gak mau melukai dia kedua kalinya, karena ia sudah berjasa menggantikan  capek dan luka yang semestinya saya terima.
    SDR, SAKIT DAN LUKA yang Tuhan Yesus rasakan jauh lebih besar dan dalam dari luka teman saya.  Padahal semestinya kitalah yang menanggungnya.  Karena itu, jangan lagi sengaja dan membiarkan diri terus menyakiti hati Tuhan. Mari kita belajar menghargai pengorbanan Tuhan Yesus.
    Jika kita sadar kita  sudah dibayar mahal dengan darah dan penderitaanNya mestinya kita berhenti terus menerus melukai hati Yesus? Banyak remaja Kristen yang berpikir: Terus-terusan “nakal” –sedikit-sedikit nggak apa-apalah pikir kita. Nyontek sedikit, bolos dikit dari sekolah dan persekutuan remaja, ngomong kotor sedikit, Piktor sedikit (pikiran kotor), melawan sedikit ama orang tua, jahil sedikit – colak colek pacar, bohong sedikit: sedikit-sedikit semua, dijumlahkan semua jadi bukit dosanya.  SDR2, JIKA ENGKAU MENGERTI APA ARTINYA DITUSUK, DICAMBUK HINGGA ROBEK, DIPUKUL HINGGA GAK BERBENTUK, DAN ITU SEMUA DEMI DIRIMU, ENGKAU TIDAK AKAN MEREMEHKAN PENGORBANAN YESUS DENGAN BERBUAT DOSA SEDIKIT-SEDIKIT.  TAPI ENGKAU AKAN BERJUANG SEBISA MUNGKIN MELAKUKAN YANG TERBAIK, BERHATI-HATI DENGAN HIDUPMU, SUPAYA YESUS TIDAK DILUKAI KE-2 KALINYA. Itu baru pertobatan sejati.
    pertobatan sejati bukan sebatas menangis mengakui “aku sudah berbuat dosa ini dan itu”  Pertobatan Sejati dimulai dengan Pengakuan dosa dan dilanjutkan dengan Membiarkan/membuka hati menerima Yesus sebagai juruselamat. Ada orang-orang yang mau menjadikan Yesus sebagai juruselamat tapi tidak mengijinkan Dia jadi Tuhan atas hidupnya.  Maunya Yesus menebus dosanya dan menyelamatkan hidupnya hingga tidak masuk neraka, tapi tidak mengijinkan Yesus jadi Tuhan yang mengatur hidupnya, tidak mengijinkan Yesus mengatur tingkah lakunya, tidak mau melakukan yang menyenangkan hati Tuhan tetap seenaknya dalam perkataan dan perbuatannya.
    Ketahuilah, Air mata tidak menjamin bahwa seseorang bertobat sejati, Tapi pertobatan sejati pasti diiringi Air mata pertobatan + terima Yesus sebagati Tuhan dan juruselamat + Usaha/perjuangan untuk tidak mengulangi dosa yang sama, perjuangan menghindari berbagai dosa apapun versinya – alias TAAT, menghargai pengorbanan Tuhan Yesus.
    Peristiwa dari Pengadilan ke Goltota tidak berhenti sampai kepada kematian saja.  Setelah semua itu Yesus bangkit mengalahkan kematian/maut. Yesus adalah Tuhan yang menang atas kuasa maut, karena itu kemenangan juga menjadi milik kita, Oleh karena itu kita patut hidup selayaknya orang yang menang, tidak lagi membiarkan

    MENGIKUT KRISTUS: Perihal Motivasi


    Baca:  Matius 8:18-22

    "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya."  Matius 8:20




    Banyak orang berpikir bahwa mengikut Kristus adalah pekerjaan yang mudah.  Benarkah?  Sebagai pengikut Kristus kita dituntut untuk memiliki komitmen dan juga motivasi yang benar.  Kalau hanya sekedar ikut-ikutan, apalah artinya.  Jangan hanya bangga dengan label 'kristen' jika tidak diiringi dengan sikap dan perbuatan yang mencerminkan Kristus, sebab menjadi Kristen berarti memproklamirkan diri sebagai pengikut Yesus Kristus.  Alkitab dengan tegas menyatakan,  "Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup."  (1 Yohanes 2:6).

         Apa yang menjadi motivasi Saudara dalam mengikut Tuhan?  Perhatikan apa yang dikatakan Tuhan Yesus ketika melihat banyak orang berbondong-bondong mengikuti Dia, "...sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang."  (Yohanes 6:26).  'Roti' berbicara tentang kebutuhan-kebutuhan jasmani.  Bila orientasi kita dalam mengikut Kristus hanya sebatas itu, suatu saat nanti kita pasti akan kecewa.  Banyak orang pada mulanya begitu menggebu-gebu mengikut Tuhan, tapi di tengah perjalanan mereka mundur dan meninggalkan Tuhan setelah apa yang mereka harapkan belum terwujud.  Begitu ada tawaran lain yang lebih menggiurkan tidak segan-segan mereka akan berpaling dari Kristus.  Atau kita mengikut Tuhan, bahkan terlibat dalam pelayanan, tapi di dalam hati kita terselip ambisi dan motivasi tidak benar.

         Dalam perjalananNya menuju kota Yerusalem ada seorang ahli Taurat yang datang kepada Yesus dan berkeinginan mengikut Dia.  "Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi."  (Matius 8:19).  Mengapa Tuhan Yesus tidak langsung meluluskan keinginan ahli Taurat itu?  Apa yang membuat Dia tidak berkenan?  Yang menjadi pokok permasalahan bukan terletak pada keseriusan dari ahli Taurat itu tapi pada motivasi atau sikap hatinya dalam mengikut Tuhan, sebab  "...TUHAN menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita."  (1 Tawarikh 28:9).  Ahli Taurat dikenal suka menerima pujian dan hormat dari manusia,  "Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang;"  (Matius 23:5).  (Bersambung)

    MELAYANI TUHAN: Motivasi dan Terbeban



    "Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka."  2 Korintus 5:15




    Satu hal yang tidak boleh dilupakan dalam melayani Tuhan adalah motivasi kita.  Motivasi pelayanan yang berkenan kepada Tuhan bukan semata-mata supaya diberkati, melainkan kita rela melayani oleh karena kasih.  "Mereka ini memberitakan Kristus karena kasih, sebab mereka tahu, bahwa aku ada di sini untuk membela Injil,"  (Filipi 1:16).

         Adapun ciri-ciri orang yang melayani Tuhan karena kerelaan dan kasih adalah:  tidak memperhitungkan untung-rugi, tidak menonjolkan diri sendiri dan tidak mencari hormat dan pujian dari manusia.  Hal ini sangat bertolak belakang dengan orang yang melayani Tuhan karena terpaksa dan memiliki motivasi terselubung:  selalu menghitug jasa, ingin dihormati dan beroleh pujian dari manusia, ingin diutamakan, tidak mau menanggung rugi, mudah sekali mengeluh, kecewa dan akhirnya pelayanannya pun tidak bertahan lama.  Orang yang melayani Tuhan harus memiliki beban yang dalam untuk melayani.  Seperti Tuhan Yesus yang melayani jiwa-jiwa karena hatinya tergerak oleh belas kasihan.  "Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala."  (Matius 9:36).  Sedangkan keberadaan orang percaya di tengah dunia adalah untuk menjadi saksiNya:  menjadi garam dan terang dunia,  "...supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."  (Matius 5:16).

         Jadi ladang pelayanan itu sesungguhnya sangat luas, tapi seringkali kita salah dalam memahami arti sebuah pelayanan.  Kita beranggapan bahwa melayani Tuhan berarti harus menjadi pendeta, penginjil atau terlibat dalam pelayanan mimbar, dan terlebih dahulu masuk Sekolah Alkitab.  Padahal Tuhan ingin agar kita memberitakan Injil melalui sikap dan tindakan kita sehari-hari, di mana pun kita berada dan kapan saja, sesuai dengan profesi kita masing-masing.

    Melayani Tuhan adalah jika kita melakukan firmanNya dan menyelesaikan pekerjaanNya.  "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya."  (Yohanes 4:34).

    Sejarah Bukit Golgota




    Kalvari, atau yang biasa disebut Golgota menurut Injil adalah situs di luar tembok Yerusalem di mana Yesus disalibkan. Injil menerjemahkan istilah yang berarti tempat tengkorak, yang dalam bahasa Yunani adalah Κρανίου Τόπος (Kraníou Topos), dan dalam bahasa Latin adalah Calvariæ Locus, dari mana kata Inggris Kalvari berasal.

    Golgota pada waktu itu terletak di luar kota Yerusalem, tetapi tidak jauh dari temboknya dan agak berdekatan dengan sebuah gerbang yang dilalui para peziarah. Dalam surat kepada orang Ibrani dikatakan: Yesus juga mati di luar pintu gerbang kota untuk membersihkan umatnya dari dosa dengan darahNya sendiri (Ibr 13:12)
    Sejak abad ke-6, bukit Golgota ini dikenal sebagai gunung, dan sebagai bukit kecil sejak tahun 333. Namun di dalam Injil, Golgota tidak pernah dinamakan gunung ataupun bukit, tetapi selalu sebuah nama tempat saja. Nama Golgota bukan hanya nama tempat berdirinya Salib Yesus, melainkan juga nama tanah milik Yusuf dari Arimatea. Secara tradisional Golgota memang disebut bukit. Kapel Kalvari terletak 5 m lebih tinggi dari lantai Gereja Holy Sepulchre (Gereja Makam Kudus).
    holyland tour jakarta
    Lokasi Bukit Golgota

    CATATAN INJIL

    Tempat penyaliban Yesus ini dicatat dalam semua empat Kitab Injil dalam Perjanjian Baru di Alkitab Kristen:
    Injil Matius: Maka sampailah mereka di suatu tempat yang bernama Golgota, artinya: Tempat Tengkorak.

    Injil Markus: Mereka membawa Yesus ke tempat yang bernama Golgota, yang berarti: Tempat Tengkorak.

    Injil Lukas: Ketika mereka sampai di tempat yang bernama Tengkorak, mereka menyalibkan Yesus di situ dan juga kedua orang penjahat itu, yang seorang di sebelah kanan-Nya dan yang lain di sebelah kiri-Nya.

    Injil Yohanes: Sambil memikul salib-Nya Ia pergi ke luar ke tempat yang bernama Tempat Tengkorak, dalam bahasa Ibrani: Golgota.
    Tempat Golgota dan kubur Yesus di lokasi gereja Holy Sepulchre tetap hidup dalam tradisi Kristiani, walaupun diketahui bahwa pada tahun 135, ketika Yerusalem menjadi daerah koloni Romawi Aelia Capitolina, kaisar Hadrian membangun kuil dewa Yupiter di atas Golgota dan altar bagi dewi Venus di atas kubur Yesus. Kemungkinan kaisar tersebut sengaja membangun di situ karena ingin memusnahkan kepercayaan Kristen dan jemaat (Gereja). Konstantin lalu membangun sebuah basilika yang besar di atasnya, yang menghubungkan ketiga tempat kudus, yaitu: Kubur Yesus, Golgota, dan gua tempat ditemukannya Salib Kristus. Basilika ini awalnya berukuran 45 m x 26 m. Pada saat pembangunan basilika ini, konfigurasi alamiah dari bukit kubur Yesus diubah dan sejumlah besar batu-batu diratakan. Sekarang ini keadaan batu alam yang tersisa adalah batu dalam kubur Yesus, di belakang Rotunda dan batu pada kaki Golgota.
    tour israel
    Bukit Tengkorak (Kalvari) menurut versi orang Kristen
    Injil Yohanes mencatat bahwa Golgota terletak sangat dekat dengan kota Yerusalem, begitu dekatnya sehingga setiap orang yang lewat dapat membaca inskripsi pada kayu salib-Nya (Yohanes 19:20). Dengan melihat pula nubuat pada Mazmur 69:12 “Aku menjadi buah bibir orang-orang yang duduk di pintu gerbang”, tempat penyaliban-Nya tentunya cukup dekat dengan pintu gerbang sehingga Yesus dapat mendengar apa yang dikatakan orang mengenai Dia. Dan sebagaimana Eusebius berkomentar pada tulisannya “Onomasticon”, bukit di luar Yerusalem ini terletak di sebelah utara Bukit Zion kuno, yaitu lokasi Bait Suci.
    Pada tahun 326, ibu dari Kaisar Konstantin, yang bernama St. Helena melakukan perjalanan ke Yerusalem untuk membersihkan daerah kubur Yesus. Ia menerima wahyu bahwa ia akan menemukan kubur Yesus, dan Salib-Nya. Untuk cerita lebih lengkapnya dapat Anda baca disini.
    Semoga penjelasan mengenai bukit Golgota ini dapat menjadi berkat dan sebagai sumber pengetahuan bagi sesama. Tuhan memberkati.
     
    Support : Website | Jemaat Golgota | Gereja Kingmi
    Copyright © 2017. Bukit Golgota - All Rights Reserved
    Template Created by Websiteby Bukit Golgota
    Proudly powered by --